KANDUNGAN ANTIOKSIDAN DALAM KULIT MANGGIS (Garcinia mangostana L.)
KANDUNGAN ANTIOKSIDAN
DALAM KULIT MANGGIS
(Garcinia
mangostana L.)
Dini
Muthia Sari
Abstrak
Kemajuan zaman dan aktivitas manusia
dengan kendaraan bermotor dan asap pabrik dapat menyebabkan radikal bebas.
Ditambah lagi dengan pola hidup yang tidak teratur hal tersebut dapat memicu
berbagai penyakit salah satunya kanker. Antioksidan merupakan salah satu
senyawa yang terdapat dalam kulit manggis yang selama ini kita kesampingkan
keberadaanya. Antioksidan merupakan senyawa kimia yang dapat berperan menangkal
serangan radikal bebas. Dengan langkah pengekstraksian yang benar akan didapat
ekstrak kulit manggis yang mengandung senyawa penting salah satunya
antioksidan. Salah satu upaya meningkatkan promosi ekstrak kulit manggis ini
adalah diolah dengan es krim.
Kata
Kunci : antioksidan, kulit manggis, radikal bebas, es krim kulit manggis
PENDAHULUAN
Kemajuan jaman dewasa ini telah membuat sebagian
besar masyarakat mengalami perubahan pola hidup termasuk diantaranya pola
makan. Dalam hal pola makan, masyarakat cenderung memilih hal-hal yang bersifat
cepat dan instant tanpa memperhatikan efek samping di balik pola makan yang
tidak tepat. Pola makan yang tidak tepat dapat menyebabkan munculnya beragam
penyakit, seperti kanker, diabetes mellitus, aterosklerosis, katarak, dan
penyakit jantung koroner (PJK). Hernani dan Rahardjo (2005) menyatakan bahwa
keberadaan radikal bebas yang bersifat sangat reaktif dan tidak stabil dalam
tubuh dapat mengakibatkan kerusakan seluler, jaringan, dan genetik (mutasi).
Menurut Soematmaji (1998), yang dimaksud radikal
bebas (free radical) adalah suatu senyawa atau molekul yang mengandung satu
atau lebih elektron tidak berpasangan pada orbital luarnya. Adanya elektron
yang tidak berpasangan menyebabkan senyawa tersebut sangat reaktif mencari
pasangan, dengan cara menyerang dan mengikat elektron molekul yang berada di
sekitarnya. Radikal bebas tersebut dapat mengoksidasi asam nukleat, protein,
lemak, bahkan DNA sel dan menginisiasi timbulnya penyakit degeneratif (Leong dan
Shui, 2001).
Keseimbangan antara kandungan antioksidan dan
radikal bebas di dalam tubuh merupakan salah satuaktor yang mempengaruhi
kesehatan tubuh. Apabila jumlah radikal bebas terus bertambah sedangkan
antioksidan endogen jumlahnya tetap, maka kelebihan radikal bebas tidak dapat
dinetralkan. Akibatnya radikal bebas akan bereaksi dengan komponen-komponen sel
dan menimbulkan kerusakan sel (Arnelia 2002). Dampak reaktifitas senyawa
radikal bebas bermacam-macam, mulai dari kerusakan sel atau jaringan, penyakit
autoimun, penyakit degeneratif seperti kanker, asterosklerosis, penyakit
jantung koroner (PJK), dan diabetes mellitus. Menurut Supari (1996), aktifitas
lingkungan yang dapat memunculkan radikal bebas antara lain radiasi, polusi,
asap rokok, makanan, minuman, ozon dan pestisida. Salah satu zat yang dapat
melawan polutan adalah antioksidan. Antioksidan adalah zat yang dapat melawan
pengaruh bahaya dari radikal bebas yang terbentuk sebagai hasil metabolisme
oksidatif, yaitu hasil dari reaksi-reaksi kimia dan proses metabolik yang terjadi di dalam tubuh. Berbagai bukti
ilmiah menunjukkan bahwa senyawa antioksidan mengurangi risiko terhadap
penyakit kronis, seperti kanker dan penyakit jantung koroner (Amrun et al.
2007). Salah satu sumber antioksidan dapat kita peroleh dari kulit manggis.
Pohon manggis dengan
nama ilmiah Garcinia
mangostana L. (Clusiaceae) biasa dikenal
sebagai mangosteen, dan buahnya
di Thailand dianggap
sebagai “queen of fruits”,
karena rasa buah
yang sangat enak. (Farnsworth,
Moongkarndi), telah dikultivasi di
berbagai negara di daerah
tropis di dunia.
Pohon ini aslinya dari
Asia Tenggara atau
Indonesia dan tersebar diberbagai
negara antara lain Malaysia, Myanmar, Thailand,
Camboja, dan Vietnam. Pohon
manggis pertumbuhannya lambat, dapat mencapai
tinggi 7-12 m, tumbuh lurus
dengan kulit batang berwarna coklat. Manggis merupakan
tumbuhan fungsional karena sebagian
besar dari tumbuhan tersebut dapat
dimanfaatkan sebagai obat. Akan
tetapi, banyak yang
tidak mengetahui jika kulit
buah manggis memiliki khasiat.
Kulit buah manggis yang selama ini dibuang
sebagai limbah setelah habis
menyantap daging buah,
ternyata memiliki segudang manfaat
penting bagi kesehatan. Di
dalam kulit buah
manggis kaya akan antioksidan
seperti xanthone dan antosianin
(Moongkandi, et al.,
2004; Kristenses, 2005; Weecharangsan, et
al., 2006; Hartanto 2011).
Buah
manggis juga digunakan
sebagai obat tradisional di
Asia Tenggara untuk pengobatan diare,
disentri, inflamasi dan tukak
lambung juga penyembuh
luka (Farnsworth,
Moongkarndi). Di Amerika Serikat produk
manggis disediakan dalam jumlah
banyak dan mempunyai kepupuleran yang
tinggi karena mereka menganggap dapat
meningkatkan derajat kesehatan (Garrity).
Juice buah manggis telah
dikelompokan menjadi salah
satu dari tiga produk botani yang
terjual paling laris di Amerika
Serikat yang dipasarkan pada tahun
2007 (Nutrition). Ekstrak manggis dan
konstituent yang telah dimurnikan merupakan suatu bahan utama pemerikasaan diberbagai
cabang biologi secara luas terutama
pada penyakit infeksi, kemoterapi
kanker dan kemopencegahan kanker, diabetes,
dan kondisi berkaitan dengan syaraf
(Weecharangsan, Chomnawang, Loo, Jung).
Pemanfaatan tanaman obat tersebut meliputi pencegahan
dan pengobatan suatu penyakit maupun pemeliharaan kesehatan.
Salah satu tanaman yang berkhasiat digunakan untuk pengobatan tradisional
adalah manggis (Garcinia
mangostana L.), terutama pemanfaatan kulit
buahnya (Nugroho, 2011).
METODE
Estraksi
Ekstraksi
merupakan proses pemisahan
zat aktif yang
dapat larut dari
bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut
cair. Hasil dari
ekstraksi adalah ekstrak
yang merupakan berwujud seperti pasta
kental yang diperoleh
dengan mengekstraksi senyawa
aktif dari simplisia
nabati atau simplisia hewani setelah pelarutnya diuapkan.
Proses ekstraksi kulit
manggis untuk mendapatkan
zat antioksidan biasanya menggunakan proses
maserasi yaitu cara
ekstraksi sedederhana untuk
mengekstrak simplisia yang mengandung
komponen kimia yang
mudah larut dalam
cairan pelarut. Prinsip
maserasi adalah mengekstraksi komponen yang terkandung dan dilakukan
dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan pelarut yang sesuai pada
temperatur kamar terlindung dari cahaya, cairan pelarut akan
masuk ke dalam
sel melewati dinding
sel. Isi sel
akan larut karena
adanya perbedaan konsentrasi antara
larutan di dalam
sel dengan di
luar sel. Larutan
yang konsentrasinya tinggi akan
terdesak keluar dan
diganti oleh cairan
pelarut dengan konsentrasi rendah (proses
difusi). Peristiwa tersebut
berulang sampai terjadi
keseimbangan konsentrasi
antara larutan di
luar sel dan
di dalam sel.
Endapan yang diperoleh
dipisahkan dan filtratnya dipekatkan. Keuntungan
dari metode ini
adalah peralatannya sederhana.
Sedang kerugiannya adalah cairan
pelarut yang digunakan
lebih banyak. Untuk
mendapatkan antioksidan dari tumbuh-tumbuhan dilakukan
ekstraksi dengan pelarut
berdasarkan tingkat kelarutan
senyawa tersebut. Senyawa alkoholik
seperti etanol, metanol,
dan propanol merupakan
pelarut untuk mengekstraksi semua
golongan flavonoid. Pelarut
yang lebih polar
digunakan untuk mengekstraksi
glikosida flavonoid.
Buah
manggis yang digunakan
sebagai bahan baku
dalam penelitian ini
diberi perlakuan awal
yang meliputi pemisahan
kulit dari buah
manggis, pengecilan ukuran dengan
menggunakan alat grinder
dan blender, kemudian diayak menggunakan
mesh -20+30. Setelah
itu dilakukan pengeringan menggunakan oven pada temperatur
50°C dan pengecekan kadar air hingga kadar airnya ±
8-10%. Pengecilan ukuran
bertujuan untuk memperluas
kontak antara padatan dan
pelarut pada proses
ekstraksi. Sedangkan tujuan
pengeringan agar bahan baku dapat
tahan lama serta
mencegah terjadinya proses
penjamuran. Alasan digunakan temperatur
pengeringan yang tidak
terlalu tinggi adalah
untuk mencegah kemungkinan rusaknya senyawa antioksidan. Pada umumnya
senyawa antioksidan rusak pada temperatur
60° – 70° C.
Gambar 1. Rangkaian Ekstraktor Model Batch
Hasil
Penelitian tentang Ekstraksi Antioksidan dari Kulit Buah Manggis
1. Penelitian
Efri Mardawati (2008)
a)
Kulit buah
manggis yang telah
terkumpul, dibersihkan dari
kotoran, kemudian dipotong kecil
– kecil dan dijemur sampai kandungan air kira-kira 8-10%.
b)
Proses ekstraksi
antioksidan dari kulit
manggis dilakukan dengan
cara maserasi selama minimal
3 hari. Kurang
lebih 100 gram
sampel kulit manggis
dimaserasi dalam 1– 2 liter pelarut.
c)
Pelarut yang
digunakan dalam proses
ekstraksi antioksidan dari
kulit manggis biasanya berupa
etanol, metanol dan etil asetat
d)
Setelah proses maserasi
selesai, larutan yang diperoleh disaring vakum dengan kertas saring dan
dipekatkan dengan rotavapor vakum pada suhu 50° C.
e)
Uji Aktivitas
Antioksidan dapat dilakukan dengan metode DPPH dan pelarut metanol memiliki
nilai EC50 paling kecil jika dibandingkan dengan etanol dan etil asetat.
2. Penelitian
Primchanien Moongkarndi (2004)
a) Kulit buah
manggis dilakukan proses
pre-treatment terlebih dahulu
dengan cara dikeringkan di bawah
sinar matahari selama 2 hari
b) Serbuk kulit
manggis (kurang lebih
1 kilogram) dimaserasi
selama 7 hari
dengan metanol absolut sebanyak 1 liter.
c) Pemekatan
dilakukan pada suhu 75° C selama 4 jam.
3. Penelitian
Ivan Surya Pradipta (2005)
a) Kulit
manggis yang akan diekstraksi, diperkecil terlebih dahulu ukurannya sampai
batas ukuran tertentu
b) Serbuk kulit
manggis sebanyak 1 kg, ditempatkan
dalam maserator yang
bagian dasarnya dilapisi kapas,
digunakan pelarut metanol
– air (perbandingan
9:1) sebanyak 3 liter.
c) Maserator
didiamkan selama 1 hari, sambil sesekali dilakukan pengadukan.
d) Proses pemekatan
dilakukan dengan rotary
evaporator, kemudian dihidrolisis menggunakan HCl 2N selama 60
menit pada suhu titik didih pelarut.
Pengujian Aktivitas
Antioksidan
Setelah proses
ekstraksi dan pemekatan
selesai, tahapan berikutnya
adalah pengujian aktivitas antioksidan
yang terkandung dalam
kulit manggis. Metode
yang digunakan adalah metode DPPH. Cara kerja pengujian
aktivitas antioksidan dapat dilihat pada Gambar 3.5 .
|
Larutan DPPH
1 mM dibuat dalam methanol (masing-masing 1 mL)
|
|
Ekstrak yang
sudah divariasikan dimasukan ke larutan
DPPH yang
telah dibuat sebelumnya
|
|
Absorbansi
diukur menggunakan spektrofotometer pada
λ= 517 nm. Blanko yang digunakan adalah
larutan metanol
|
|
Uji
Aktivitas Antioksidan dilakukan secara duplo
|
|
Campuran
divorteks dan diinkubasi pada suhu 37°0C,
selama 30
menit
|
|
Ekstrak
divariasikan konsentrasinya dengan melarutkan
0,01- 0,16
mg dalam 5 mL metanol
|
Gambar
2. Diagram Alir Uji Aktivitas Antioksidan
Analisa Kadar Air
Kulit manggis
yang dikeringkan menggunakan
oven dianalisis kadar air
yang terkandung di
dalamnya. Analisis kadar
air ini didasarkan pada prinsip
gravimetri, dimana metode
gravimetri ini didasarkan
atas perbandingan massa bahan
setelah dipanaskan dan
massa bahan sebelum dipanaskan. Pada
saat pemanasan berlangsung,
air yang masih
tertiggal dalam bahan akan menguap.
Salah
satu alat yang
digunakan adalah moisture
analyzer. Secara harafiah, alat
ini memang menunjukkan
bahwa akan menganalisis kandungan lembab
yang terkandung dalam
zat uji yang
kemudian akan menguap akibat
panas yang diberikan.
Kandungan lembab dalam percobaan kali
ini adalah air.
Gambar dibawah akan
menunjukkan prosedur kerja analisis kadar air.
Gambar
3. Diagram Alir Analisis Kadar Air
UPAYA PROMOSI
Suplemen
Antioksidan bisa didapat dari sayuran dan
buah-buahan, akan tetapi untuk mencukupi kebutuhan antioksidan dalam tubuh
diperlukan porsi sayuran dan buah-buahan dalam jumlah besar. Selain itu, cara
mengolah yang tidak tepat dapat merusak antioksidan yang terkandung di
dalamnya. Sebagai solusi, diciptakanlah produk suplemen makanan seperti
suplemen ekstrak kulit manggis.
Kulit manggis telah banyak digunakan untuk
pengobatan sejak ratusan tahun yang lalu. Di dalam kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) terkandung
komponen aktif bersifat antioksidan, yang disebut xanton atau xanthones. Xanton
tersusun lebih dari 40 senyawa antioksidan seperti isomangostin, mangiferin,
mangostin, garcinone, dan lain-lain.
Dari hasil uji laboratorium tes ORAC (Oxygen Radical
Absorbance Capacity), xanton mempunyai kemampuan antioksidan berkisar pada
nilai 17000 – 20000 ORAC per 100 ounce. Angka tersebut sangat besar jika
dibandingkan dengan kemampuan antioksidan yang terdapat dalam tomat (200 ORAC),
pisang dan mangga (300 ORAC), anggur (1100 ORAC), apel (1400 ORAC), jeruk (2400
ORAC) dan strawberry (2600 ORAC). Pendek kata, hal ini membuat kemampuan
antioksidan xanton bekerja lebih cepat dan lebih signifikan dalam menjaga
sistem imun dan stamina, termasuk mencegah penyakit degeneratif dan penyakit
akibat mikroorganisme.
Suplemen ekstrak kulit manggis tersedia dalam bentuk
jus, seduhan, dan kapsul. Namun, tidak semuanya murni berisikan esktrak.
Beberapa suplemen mungkin hanya berisi tepung kulit manggis. Sangat
disayangkan, di mana manfaat antioksidan yang diharapkan menjadi tidak maksimal.
Lain halnya dengan Xantonin. Xantonin terbuat dari kulit manggis pilihan
(dengan tingkat ketuaan tertentu), tanpa penambahan zat lain, dan diekstraksi
secara maserasi menggunakan pelarut khusus pada tekanan vakum suhu rendah.
Kualitas kulit manggis dan kondisi proses ekstraksi dijaga untuk mendapatkan
ekstrak xanton berkualitas tinggi. Hasil pengamatan aktivitas antioksidan (uji
dengan metode DPPH) xaNtonin adalah nilai IC50 22 µ/mL, atau kategori sangat
kuat (<50 µ/mL).
Dengan mengkonsumsi xantonin, Anda akan memperoleh
beberapa manfaat, antara lain membuat sehat dan awet muda karena kemampuannya
menetralisir radikal bebas dan mempercepat regenerasi sel, serta membantu tidur
lebih nyenyak sehingga badan lebih segar ketika bangun pagi dan stamina pun
tetap terjaga. Secara kasat mata, perubahan akan nampak setelah mengkonsumsi
xaNtonin secara rutin lebih dari 3 bulan.
Manfaat lainnya yaitu membantu mencegah penyakit
jantung dan pembuluh darah, memperbaiki kondisi pasien diabetes mellitus tipe
II, melawan infeksi mikroorganisme dengan mematikan bakteri (antimicrobial),
jamur (antifungal), dan menghambat replikasi virus (antiviral) penyebab
penyakit. Hal tersebut telah dibuktikan kebenarannya oleh berbagai penelitian
ilmiah.
Sebagai
tambahan, berikut kami bagikan tips bagaimana membedakan kapsul berisi ekstrak
kulit manggis atau tepung kulit manggis :
1.
Buka
kapsulnya, ambil sejumput serbuk / isinya. Letakkan serbuk / isi di antara dua
jari tangan dan gesek-gesekkan. Bila terjadi perubahan warna mengarah ke merah
ungu, berarti suplemen tersebut berisi tepung kulit manggis, bukan ekstrak. Hal
ini disebabkan karena kandungan flavonoid (pemberi warna merah ungu pada kulit
manggis) masih aktif. Jika suplemen tersebut murni berisi ekstrak, maka serbuk
isi kapsul tidak akan berubah warna ketika digesekkan.
2.
Gunakan
indra penciuman Anda. Suplemen yang murni berisi ekstrak tidak berbau saat
dicium karena tidak terdapat penambahan bahan lain.
Dibuat Produk Es Krim
Es krim merupakan
produk olahan susu
yang cukup populer
dan memiliki segmen pasar
yang luas dan merupakan jajanan yang digemari oleh berbagai kalangan
baik anak-anak, remaja, maupun
dewasa. Tingkat pertumbuhan
pasar es krim di
dalam negeri terus meningkat sedikitnya
20% setiap tahun.
Namun, karena kandungan
lemak dan gulanya yang
tinggi mengakibatkan masyarakat
khususnya orang dewasa
dan remaja menjadi khawatir dan
mempunyai pandangan bahwa
es krim merupakan makanan
yang mengakibatkan kegemukan dan meningkatkan timbunan kolesterol. Lemak
dan energi yang tinggi dalam pembuatan
es krim disebabkan
oleh adanya lemak
susu sebagai salah
satu bahan baku dalam pembuatan es krim.
Berbagai
jenis inovasi es
krim terus berkembang
baik es krim
berbahan dasar susu (dairy product) maupun non-dairy product
seperti velva atau es krim berbahan dasar santan, tetapi es krim
dengan penambahan antioksidan terutama antioksidan
yang bersumber dari kulit
manggis belum pernah
dikembangkan sebelumnya. Oleh
sebab itu terdapat penelitian yang dilakukan untuk
mengetahui seberapa efisien
penggunaan kulit manggis
sebagai sumber antioksidan pada
proses pembuatan es
krim.
1.
Bahan
Bahan yang digunakan
untuk pembuatan es
krim kulit manggis
ini adalah sari
kulit manggis, whipped cream, telur, susu sapi full cream, gula, dan
bahan Bahan penstabil yaitu CMC dan gum arab diperoleh dari toko Makmur sejati
Malang. Bahan yang digunakan untuk analisis antara lain, petroleum eter,
aseton, tablet kjedal, asam sulfat pekat, aquades, indicator metal red dan Pp,
asam borat, NaOH 45 %, HCL 0.10 N, DPPH 0.20 MM, etanol dan kain saring.
2.
Alat
Alat
yang digunakan untuk pembuatan
es krim kulit manggis adalah
blender (miyako), ice cream
maker (gelatiera), freezer
(polytron), (sharp), mixer
(miyako), timbangan analitik (Denver Instrumen XP-1500), kompor,
panci, pengaduk, wadah stainless steel. Alat yang digunakan untuk analisis
antara lain timbangan analitik (Denver Instrumen XP-1500), timbangan
digital (Denver Instrumen
M-130), oven, desikator,
labu Kjeldahl, soxhlet, rak tabung reaksi, pipet ukur,
vortex, spektrofotometer dan glass ware.
UPAYA PREVENTIF
Budidaya Garcinia
mangostana L.
Budidaya buah manggis atau menanam tanaman manggis sudah
banyak dilakukan oleh para petani Indonesia, apalagi pada masa sekarang banyak
ahli yang menemukan berbagai khasiat dan manfaat dari tanaman buah manggis
untuk kesehatan tubuh manusia, maka tidak heran apabila permintaan buah manggis
semakin hari semakin meningkat. Dengan meningkatnya permintaan seperti itu secara
otomatis kebutuhan akan buah manggis pasti meningkat, hal ini bisa menjadikan
peluang bagi para petani, khususnya para petani buah - buahan untuk
mencoba membudidayakan buah manggis ini.
Di bawah ini akan dibahas secara singkat bagaimana
langkah - langkah dalam melakukan budidaya buah manggis atau cara menanam tanaman manggis yang baik.
Syarat Tumbuh Buah
Manggis
Tanah yang disukai tanaman manggis adalah jenis
tanah yang gembur yang kaya kandungan bahan organik dengan drainase yang baik.
Sebaliknya, tanaman manggis tidak menyukai tanah yang bersifat basa dan rendah
kesuburannya. Tanah untuk tanaman manggis harus senantiasa lembap, tetapi tidak
menggenang. Air tanah sedalam 2 m dari permukaan tnah cocok untuk tanaman
manggis.
Curah hujan yang merata dengan sepuluh bulan basah
dalam setahun amat disukai tanaman manggis. Sementara udara yang lembap dengan
suhu udara 25-32°C sangat menunjang pertumbuhannya. Pada masa awal pertubuhan,
manggis menyukai naungan. Akan tetapi, menjelang dewasa, sinar matahari penuh
apat mempercepat masa awal produksinya. Sejauh ini tanaman manggis yang
produktif dijumpai pada ketinggian 5-500 m di atas permukaan laut.
Pemilihan Bibit Buah
Manggis
Dalam menanam manggis, penggunaan bibit perlu
hati-hati agar nanti kita tidak kecewa. Bibit sebagai cikal bakal tanaman bisa
diibaratkan sebagai modal yang ditanamkan dan akan bisa dipetik hasilnya
setelah tanaman berbuah. Penggunaan bibit manggis unggul merupakan salah
satu factor yang menunjang keberhasilan penanaman manggis. Bibit manggis unggul
nantinya akan menghasilkan buah yang berkualitas. Sifat buah manggis berbeda
dengan tanaman buah lainnya, misalnya durian. Durian mempunyai
sifat menyerbuk silang sehingga kalau bijinya ditanam, buah yang akan
dihasilkan akan lain dari induknya. Hal ini tidak terjadi pada manggis. Pembentukkan
buah manggis bersifat apomiksis. Artinya, biji manggis berbentuk
tanpa pembuahan.Bila diperhatikan, bunga manggis mempunyai tangai tepung sari
yang pendek dan kering sehingga tidak bisa berfungsi sebagai penyerbuk.
Walaupun demikian, biji manggis akan terbentuk dengan sendirinya karena adanya
hormone endogen biji.
Ada petani yang beranggapan bahwa kalau menanam
manggis, cukup menanamnya dengan menggunakan bibit dari biji. Toh nanti
hasilnya akan persis sama dengan induknya. Pendapat ini memang ada benarnya
mengingat manggis bersifat aporniksis. Akan tetapi, perlu diingat walaupun
buahnya akan persis sama dengan induknya, tanaman manggis asal biji baru akan
berubah awal atau berbuah pertama kali setelah berumur sepuluh tahun atau lebih
semenjak tanam. Sebaliknya, kalau kita menanam bibit vegetative, tanaman
manggis akan berubah setelah berumur lima tahun setelah tanam. Bibit manggis
yang ada saat ini terdiri dari bibit asal biji, sambungan, dan susunan. Untuk
membedakkan macam-macam bibit yang ada ini, sebaiknya kita mengetahui
cirri-cirinya sebagai berikut :
a. Bibit
asal biji, cirri-cirinya adalah batangnya tegak dan kekar. Batang tampak mulus,
tidaka da bekas penyembuhan luka. Bibit asal biji baik digunakan untuk batang
bawah dalam perbanyakan dengan cara sambungan atau susunan.
b. Bibit
sambungan, cirri-cirinya adalah adanya bekas penyembuhan luka yang biasanya
berbentuk huruf V pada batas sambungan antara batang atas dan batang bawah.
c. Bibit
susuan, cirri-cirinya adalah pertumbuhan batang atas seolah-olah bergandengan
dengan batang bawah. Pada sisi-kiri dan kanan batang bawah-tempat terjadinya
penyusunaan dengan batang atas akan tampak jelas adanya penyembuhan luka.
Penanganan Bibit
Manggis Sebelum Ditanam
Bibit yang baru dibeli sebaiknya janagn langsung
ditanam. Suhu yang panas dan adanya goncanagn selama pengangkutan menyebabkan
bibit menjadi stress.oleh kareana itu, pemulihan kondisi iklim dilokasi yang
baru belum tentu sama dengan iklim ditempat asal bibit sehingga perlu waktu
untuk penyesuaian dengan lingkungan yang baru. Bibit yang dikirim dengan
pengepakan segera dikeluarkan dari kemasannya dengan hati-hati dan ditempatkan
di tempat yang teduh, tetapi masih cukup menerima sinar matahari (30%cahaya).
Penyimpanan bibit diatur sedemikian rupa sehingga antara daun bibit yang satu
dengan yang lain tidak bersentuhan.Bila media dalam polybag kering, segera
dilakukan penyiraman. Penyiraman selanjutnya bisa dilakukan setiap dua kali
sehari. Waktu yang diperlukan oleh bibit untuk beradaptasi dengan lingkungan
baru bisa bervariasi dari 2 minggu hingga beberapa bulan, tergantung dari
kondisi kesegarannya. Ini bisa diamati dari adanya tanda-tanda pertumbuhan pada
bibit tersebut. Setelah bibit kelihatan segar, bibit bisa ditanam dikebun. Akan
tetapi, bila waktu penanamannya masih lama, sebaiknya selain disiram bibit
diberi pupuk daun. Bibit daun yang bisa dipergunakan antara lain Forest,
supermes, atau algafer dengan konsentrasi berbeda-beda sesuai petunjuk pada
kemasannya. Larutan pupuk ini disemprotkan ka bagian bawah dan atas permukaan
daun secara merata. Untuk menjaga pertumbuhan yang baik, pemupukan dapat
dilakukan setiap minggu. Penyemprotan dengan insektisida dan fungisida hanya
dilakukan bila terdapat gejala serangan hama dan cendawan.
Persiapan Lahan
Lahan pertanian yang belum pernah ditanami palawija
biasanya ditumbuhi semak berdaun lebar, alang-alang, atau rerumputan lain.
Semua gulma (tumbuhan pengganggu) ini harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum
lahan diolah lebih lanjut. Setelah itu, tanah dicangkul dan akar-akar tanaman
dikumpulkan, lalu dibakar. Pencangkulan perlu dilakukan supaya tanah menjadi
gembur sehingga perakaran tanaman manggis dapat berkembang dengan baik.
Untuk lahan yang sangat luas, kurang praktis jika seluruh lahan dicangkul.
Disarankan pengolahan terbatas pada titik-titik tertentu dimana bibit akan
ditanam.
Sistem Penanaman dan
Pembuatan Lubang Tanam
Kegiatan selanjutnya adalah membuat peta kebun
dengan memperhitungkan sisitem dan jarak tanam.Peta ini dijadikan patokan kerja
untuk melakukan pengajiran, yaitu pemberian tanda pada lokasi yang akan
ditanami. Ajir dapat dibuat dari bilah bamboo yang dicat merah sehingga mudah
terlihat dari jarak jauh. Jarak tanam yang biasa digunakan untuk tanaman
manggis adalah 10 x 10m, sedangkan tanaman untuk pelindung-pisang-ditanam
dengan jarak 2,5 m diantara tanaman manggis.Lubang tanam untuk manggis dibuat
dengan ukuran panjang, lebar, dan dalam masing-masing 75 cm. Pada waktu penggalian
lubang tanam, dilakukan pemisahan tanah galian. Setengah bagian tanah lapisan
atas ditaruh di sebelah kiri lubang dan setengah bagian tanah lapisan bawah
disebelah kanan lubang.Lubang kemudian dibiarkan terangin-angin dan terkena
sinar matahari sekitar 2 minggu. Dengan cara ini, gas beracun yang mungkin ada
di sela-sela tanah bisa terbawa angin sehingga dapat diganti dengan oksigen
dari udara.
Penanaman
Pemindahan bibit manggis dari persemaian
ke lapangan memerlukan perhatian khusus. Mula-mula pada tempat yang ditancapi
ajir dibuat lunag kecil dengan ukuran sedikit lebih besar dari ukuran polibag
bibit manggis yang akan ditanam. Bibit manggis yang sudah disipakan lalu
dikeluarkan dari polibag. Caranya, polibag disobek atau disayat mulai dari tepi
atas sampai ke dasar. Bibit dengan tanahnya kemudian dimasukkan dengan
hati-hati ke dalam lubang tanam denagn posisi tegak lurus terhadap permukaan
tanah. Hal pokok yang harus diperhatikan adalah perakaran sama sekali tidak
boleh terganggu. Bila kat tunggang terputus atau bola tanah yang membungkus
perakaran terbelah, dalam 3-4 hari tanaman akan terlihat layu. Biasanya tanaman
yang sudah layu tidak dapat diselamatkan .Lambat laun tanaman akan mongering,
lalu mati.
DAFTAR PUSTAKA
Asep
W Permana, Siti Mariana Widayanti, Sulusi Prabawati, dan Dondy A Setyabudi,
2012. Sifat Antioksidan Bubuk Kulit Buah
Manggis (Garcinia Mangostana L.) Instan dan Aplikasinya untuk Minuman
Fungsional Berkarbonasi. [Jurnal] Balai Besar Penelitian dan Pengembangan
Pascapanen Pertanian
Dewi,
I.D.A.D.Y., Astuti, K.W, Warditiani,
N.K., 2013. Identifikasi Kandungan Kimia
Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.). [Jurnal] Universitas
Udayana.
Efendi,
Wijaya, 1991. Ekstraksi, Purifikasi, dan
Karakterisasi Antosianin dari Kulit Manggis (Garcinia Mangostana L. [Skripsi]
Institut Pertanian Bogor
Hyun Ah-Jung, Bao-Ning Su, William,
Rajendra G.Mehta, dan A.Douglas Kinghorn, 2006. Antioxidant Xanthones from the Pericarp of Garcinia mangostana
(Mangosteen). [Jurnal] Division of Medicinal Chemistry and Pharmacognosy,
College of Pharmacy, The Ohio State University
Miksusanti,
Elfita, dan Hotdelina S, 2012. Aktivitas
Antioksidan dan Sifat Kestabilan Warna Campuran Ekstrak Etil Asetat Kulit Buah
Manggis (Garcinia mangostana L.) dan Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.).
[Jurnal] Jurusan Kimia, Universitas Sriwijaya, Sumatera Selatan, Indonesia
Poeloengan,
Masniari, Praptiwi, 2010. Uji Aktivitas
Anti Bakteri Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana Linn).
[Jurnal] LIPI Cibinong
Putra,
I Nengah Kencana, 2010. Uji Aktivitas
Antibakteri Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana Linn). [Jurnal]
Universitas Udayana
Rahman,
Abdur, 2012. Analisis Kandungan
Antioksidan dari Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L) dan Uji Aktivitasnya
pada Asam Oleat. [Jurnal] Universitas Indonesia
Rahmawati,
Yulistiana Dwi, 2011. Identifikasi
Senyawa Antioksidan Dalam Ekstrak Etanol Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) Secara Kromatografi
Lapis Tipis Autografi. [Skripsi] Universitas Jember
Stevi
G. Dungira, Dewa G. Katjaa, Vanda S. Kamu, 2012. Aktivitas Antioksidan Ekstrak
Fenolik dari Kulit
Buah Manggis (Garcinia mangostana L.). [Jurnal] Universitas Sam
Ratulangi Manado
Vienna
Saraswaty, Chandra Risdian, Thelma A. Budiwati, dan Tjandrawati M, 2013. Aktivitas Antioksidan dari Kombinasi Ekstrak
Etanol Kulit Manggis, Daun Sirsak, dan Daun Sirih Merah. [Jurnal] Pusat
Penelitian Kimia LIPI
Yan
Abdi Nugroho, Joni Kusnadi, 2015. Aplikasi
Kulit Manggis (Garcinia mangostana L.) sebagai Sumber Antioksidn pada Es Krim.
[Jurnal] FTP Universitas Brawijaya Malang
Y.I.P
Arry Miryanti, Lanny Sapei, Kurniawan Budiono, Stephen Indra, 2011. Ekstraksi Antioksidan dari
Kulit Buah Manggis (Garcinia
mangostana L.) [Jurnal] Universitas Kristen Parahyangan Bandung
Zulharmita,
Mia Prajuwita, Agusri Boestari, 2011. Penetapan
Kadar Fenolat Total dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kulit Segar Buah
Manggis (Garcinia mangostana Linn.)
[Jurnal] Universitas Andalas Padang
Yukihiro Akao, Yoshihito Nakagawa,
Munekazu Iinuma, and Yoshinori Nozawa, 2008. Anti-Cancer Effects of Xanthones from Pericarps of Mangosteen. [Jurnal]
Gifu International Institute of Biotechnology
Zarena,Arasali Sulaiman dan Kadimi
Udaya Sankar, 2009. A Study of
Antioxidant Properties from Garcinia mangostana L. Pericarp Extract.
[Jurnal] Central Food Technological Research Institute in Mysore, India
Komentar
Posting Komentar