KANDUNGAN ANTIOKSIDAN DALAM KULIT MANGGIS (Garcinia mangostana L.)

KANDUNGAN ANTIOKSIDAN DALAM KULIT MANGGIS
(Garcinia mangostana L.)
Dini Muthia Sari

Abstrak
Kemajuan zaman dan aktivitas manusia dengan kendaraan bermotor dan asap pabrik dapat menyebabkan radikal bebas. Ditambah lagi dengan pola hidup yang tidak teratur hal tersebut dapat memicu berbagai penyakit salah satunya kanker. Antioksidan merupakan salah satu senyawa yang terdapat dalam kulit manggis yang selama ini kita kesampingkan keberadaanya. Antioksidan merupakan senyawa kimia yang dapat berperan menangkal serangan radikal bebas. Dengan langkah pengekstraksian yang benar akan didapat ekstrak kulit manggis yang mengandung senyawa penting salah satunya antioksidan. Salah satu upaya meningkatkan promosi ekstrak kulit manggis ini adalah diolah dengan es krim.
Kata Kunci : antioksidan, kulit manggis, radikal bebas, es krim kulit manggis

PENDAHULUAN
Kemajuan jaman dewasa ini telah membuat sebagian besar masyarakat mengalami perubahan pola hidup termasuk diantaranya pola makan. Dalam hal pola makan, masyarakat cenderung memilih hal-hal yang bersifat cepat dan instant tanpa memperhatikan efek samping di balik pola makan yang tidak tepat. Pola makan yang tidak tepat dapat menyebabkan munculnya beragam penyakit, seperti kanker, diabetes mellitus, aterosklerosis, katarak, dan penyakit jantung koroner (PJK). Hernani dan Rahardjo (2005) menyatakan bahwa keberadaan radikal bebas yang bersifat sangat reaktif dan tidak stabil dalam tubuh dapat mengakibatkan kerusakan seluler, jaringan, dan genetik (mutasi).
Menurut Soematmaji (1998), yang dimaksud radikal bebas (free radical) adalah suatu senyawa atau molekul yang mengandung satu atau lebih elektron tidak berpasangan pada orbital luarnya. Adanya elektron yang tidak berpasangan menyebabkan senyawa tersebut sangat reaktif mencari pasangan, dengan cara menyerang dan mengikat elektron molekul yang berada di sekitarnya. Radikal bebas tersebut dapat mengoksidasi asam nukleat, protein, lemak, bahkan DNA sel dan menginisiasi timbulnya penyakit degeneratif (Leong dan Shui, 2001).
Keseimbangan antara kandungan antioksidan dan radikal bebas di dalam tubuh merupakan salah satuaktor yang mempengaruhi kesehatan tubuh. Apabila jumlah radikal bebas terus bertambah sedangkan antioksidan endogen jumlahnya tetap, maka kelebihan radikal bebas tidak dapat dinetralkan. Akibatnya radikal bebas akan bereaksi dengan komponen-komponen sel dan menimbulkan kerusakan sel (Arnelia 2002). Dampak reaktifitas senyawa radikal bebas bermacam-macam, mulai dari kerusakan sel atau jaringan, penyakit autoimun, penyakit degeneratif seperti kanker, asterosklerosis, penyakit jantung koroner (PJK), dan diabetes mellitus. Menurut Supari (1996), aktifitas lingkungan yang dapat memunculkan radikal bebas antara lain radiasi, polusi, asap rokok, makanan, minuman, ozon dan pestisida. Salah satu zat yang dapat melawan polutan adalah antioksidan. Antioksidan adalah zat yang dapat melawan pengaruh bahaya dari radikal bebas yang terbentuk sebagai hasil metabolisme oksidatif, yaitu hasil dari reaksi-reaksi kimia dan proses metabolik  yang terjadi di dalam tubuh. Berbagai bukti ilmiah menunjukkan bahwa senyawa antioksidan mengurangi risiko terhadap penyakit kronis, seperti kanker dan penyakit jantung koroner (Amrun et al. 2007). Salah satu sumber antioksidan dapat kita peroleh dari kulit manggis.
Pohon  manggis  dengan  nama  ilmiah  Garcinia  mangostana  L.  (Clusiaceae) biasa  dikenal  sebagai  mangosteen,  dan buahnya  di  Thailand  dianggap  sebagai “queen  of  fruits”,  karena  rasa  buah  yang sangat  enak.  (Farnsworth,  Moongkarndi), telah  dikultivasi  di  berbagai  negara  di daerah  tropis  di  dunia.  Pohon  ini  aslinya dari  Asia  Tenggara  atau  Indonesia  dan tersebar  diberbagai  negara  antara lain  Malaysia, Myanmar,  Thailand,  Camboja,  dan Vietnam. Pohon manggis pertumbuhannya lambat,  dapat  mencapai  tinggi  7-12  m,  tumbuh  lurus  dengan  kulit  batang berwarna coklat. Manggis  merupakan  tumbuhan  fungsional karena  sebagian  besar  dari  tumbuhan tersebut  dapat  dimanfaatkan  sebagai  obat. Akan  tetapi,  banyak  yang  tidak mengetahui  jika  kulit  buah  manggis memiliki khasiat. Kulit buah manggis yang selama  ini  dibuang  sebagai  limbah  setelah habis  menyantap  daging  buah,  ternyata memiliki  segudang  manfaat  penting  bagi kesehatan.  Di  dalam  kulit  buah  manggis kaya  akan  antioksidan  seperti  xanthone dan  antosianin  (Moongkandi,  et  al.,  2004; Kristenses,  2005;  Weecharangsan,  et  al., 2006; Hartanto 2011).
Buah  manggis  juga  digunakan  sebagai obat  tradisional  di  Asia  Tenggara  untuk pengobatan  diare,  disentri,  inflamasi  dan tukak  lambung  juga  penyembuh  luka (Farnsworth,  Moongkarndi).  Di  Amerika Serikat  produk  manggis  disediakan  dalam jumlah  banyak  dan  mempunyai kepupuleran  yang  tinggi  karena  mereka menganggap  dapat  meningkatkan  derajat kesehatan  (Garrity).  Juice  buah  manggis telah  dikelompokan  menjadi  salah  satu dari tiga produk botani  yang terjual paling laris  di  Amerika  Serikat  yang  dipasarkan pada  tahun  2007  (Nutrition).  Ekstrak manggis  dan  konstituent  yang  telah dimurnikan merupakan suatu bahan utama pemerikasaan  diberbagai  cabang  biologi secara luas terutama pada penyakit infeksi, kemoterapi  kanker  dan  kemopencegahan kanker,  diabetes,  dan kondisi  berkaitan dengan  syaraf  (Weecharangsan, Chomnawang, Loo, Jung).
Pemanfaatan tanaman obat tersebut meliputi  pencegahan  dan  pengobatan  suatu penyakit maupun pemeliharaan kesehatan. Salah satu tanaman yang berkhasiat digunakan untuk pengobatan  tradisional  adalah  manggis (Garcinia  mangostana  L.),  terutama pemanfaatan  kulit  buahnya  (Nugroho,  2011).

METODE
Estraksi
Ekstraksi  merupakan  proses  pemisahan  zat  aktif  yang  dapat  larut  dari  bahan yang  tidak dapat  larut  dengan  pelarut  cair.  Hasil  dari  ekstraksi  adalah  ekstrak  yang  merupakan  berwujud seperti  pasta  kental  yang  diperoleh  dengan  mengekstraksi  senyawa  aktif  dari  simplisia  nabati atau simplisia hewani setelah pelarutnya diuapkan.
Proses  ekstraksi  kulit  manggis  untuk  mendapatkan  zat  antioksidan  biasanya menggunakan  proses  maserasi  yaitu  cara  ekstraksi  sedederhana  untuk  mengekstrak  simplisia yang  mengandung  komponen  kimia  yang  mudah  larut  dalam  cairan  pelarut.  Prinsip  maserasi adalah mengekstraksi komponen yang terkandung dan dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan pelarut yang sesuai pada temperatur kamar terlindung dari cahaya, cairan pelarut  akan  masuk  ke  dalam  sel  melewati  dinding  sel.  Isi  sel  akan  larut  karena  adanya perbedaan  konsentrasi  antara  larutan  di  dalam  sel  dengan  di  luar  sel.  Larutan  yang konsentrasinya  tinggi  akan  terdesak  keluar  dan  diganti  oleh  cairan  pelarut  dengan  konsentrasi rendah  (proses  difusi).  Peristiwa  tersebut  berulang  sampai  terjadi  keseimbangan  konsentrasi antara  larutan  di  luar  sel  dan  di  dalam  sel.  Endapan  yang  diperoleh  dipisahkan  dan  filtratnya dipekatkan.  Keuntungan  dari  metode  ini  adalah  peralatannya  sederhana.  Sedang  kerugiannya adalah  cairan  pelarut  yang  digunakan  lebih  banyak.  Untuk  mendapatkan  antioksidan  dari tumbuh-tumbuhan  dilakukan  ekstraksi  dengan  pelarut  berdasarkan  tingkat  kelarutan  senyawa tersebut.  Senyawa  alkoholik  seperti  etanol,  metanol,  dan  propanol  merupakan  pelarut  untuk mengekstraksi  semua  golongan  flavonoid.  Pelarut  yang  lebih  polar  digunakan  untuk mengekstraksi glikosida flavonoid.
Buah  manggis  yang  digunakan  sebagai  bahan  baku  dalam  penelitian  ini  diberi  perlakuan  awal  yang  meliputi  pemisahan  kulit  dari  buah  manggis, pengecilan  ukuran  dengan  menggunakan  alat  grinder  dan  blender,  kemudian diayak  menggunakan  mesh  -20+30.  Setelah  itu  dilakukan  pengeringan menggunakan oven pada temperatur 50°C dan pengecekan kadar air hingga kadar airnya  ±  8-10%.  Pengecilan  ukuran  bertujuan  untuk  memperluas  kontak  antara padatan  dan  pelarut  pada  proses  ekstraksi.  Sedangkan  tujuan  pengeringan  agar bahan  baku  dapat  tahan  lama  serta  mencegah  terjadinya  proses  penjamuran. Alasan  digunakan  temperatur  pengeringan  yang  tidak  terlalu  tinggi  adalah  untuk mencegah kemungkinan rusaknya senyawa antioksidan. Pada umumnya senyawa antioksidan  rusak pada temperatur 60° – 70° C.
 









Gambar 1. Rangkaian Ekstraktor Model Batch

Hasil Penelitian tentang Ekstraksi Antioksidan dari Kulit Buah Manggis 
1.  Penelitian Efri Mardawati (2008)
a)        Kulit  buah  manggis  yang  telah  terkumpul,  dibersihkan  dari  kotoran,  kemudian dipotong kecil – kecil dan dijemur sampai kandungan air kira-kira 8-10%.
b)        Proses  ekstraksi  antioksidan  dari  kulit  manggis  dilakukan  dengan  cara  maserasi selama  minimal  3  hari.  Kurang  lebih  100  gram  sampel  kulit  manggis  dimaserasi dalam 1– 2 liter pelarut.
c)        Pelarut  yang  digunakan  dalam  proses  ekstraksi  antioksidan  dari  kulit  manggis biasanya berupa etanol, metanol dan etil asetat
d)       Setelah proses maserasi selesai, larutan yang diperoleh disaring vakum dengan kertas saring dan dipekatkan dengan rotavapor vakum pada suhu 50° C.
e)        Uji Aktivitas Antioksidan dapat dilakukan dengan metode DPPH dan pelarut metanol memiliki nilai EC50 paling kecil jika dibandingkan dengan etanol dan etil asetat.


2.    Penelitian Primchanien Moongkarndi (2004)
a)      Kulit  buah  manggis  dilakukan  proses  pre-treatment  terlebih  dahulu  dengan  cara dikeringkan di bawah sinar matahari selama 2 hari
b)      Serbuk  kulit  manggis  (kurang  lebih  1  kilogram)  dimaserasi  selama  7  hari  dengan metanol absolut sebanyak 1 liter.
c)      Pemekatan dilakukan pada suhu 75° C selama 4 jam.

3.    Penelitian Ivan Surya Pradipta (2005)
a)      Kulit manggis yang akan diekstraksi, diperkecil terlebih dahulu ukurannya sampai batas ukuran tertentu
b)      Serbuk  kulit  manggis  sebanyak  1  kg,  ditempatkan  dalam  maserator  yang  bagian dasarnya  dilapisi  kapas,  digunakan  pelarut  metanol  –  air  (perbandingan  9:1) sebanyak 3 liter.
c)      Maserator didiamkan selama 1 hari, sambil sesekali dilakukan pengadukan.
d)     Proses  pemekatan  dilakukan  dengan  rotary  evaporator,  kemudian  dihidrolisis menggunakan HCl 2N selama 60 menit pada suhu titik didih pelarut.

Pengujian Aktivitas Antioksidan
  Setelah  proses  ekstraksi  dan  pemekatan  selesai,  tahapan  berikutnya  adalah  pengujian aktivitas  antioksidan  yang  terkandung  dalam  kulit  manggis.  Metode  yang  digunakan  adalah metode DPPH. Cara kerja pengujian aktivitas antioksidan dapat dilihat pada Gambar 3.5 .

Larutan DPPH 1 mM dibuat dalam methanol (masing-masing 1 mL)

Ekstrak yang sudah divariasikan dimasukan ke larutan
DPPH yang telah dibuat sebelumnya

Absorbansi diukur menggunakan spektrofotometer pada
 λ= 517 nm. Blanko yang digunakan adalah larutan metanol

Uji Aktivitas Antioksidan dilakukan secara duplo

Campuran divorteks dan diinkubasi pada suhu 37°0C,
selama 30 menit

Ekstrak divariasikan konsentrasinya dengan melarutkan
0,01- 0,16 mg dalam 5 mL metanol









Gambar 2. Diagram Alir Uji Aktivitas Antioksidan

Analisa Kadar Air
    Kulit  manggis  yang  dikeringkan  menggunakan  oven  dianalisis kadar  air  yang  terkandung  di  dalamnya.  Analisis  kadar  air  ini  didasarkan pada  prinsip  gravimetri,  dimana  metode  gravimetri  ini  didasarkan  atas perbandingan  massa  bahan  setelah  dipanaskan  dan  massa  bahan  sebelum dipanaskan.  Pada  saat  pemanasan  berlangsung,  air  yang  masih  tertiggal dalam bahan akan menguap.
Salah  satu  alat  yang  digunakan  adalah  moisture  analyzer.  Secara harafiah,  alat  ini  memang  menunjukkan  bahwa  akan  menganalisis kandungan  lembab  yang  terkandung  dalam  zat  uji  yang  kemudian  akan menguap  akibat  panas  yang  diberikan.  Kandungan  lembab  dalam percobaan  kali  ini  adalah  air.  Gambar  dibawah  akan  menunjukkan prosedur kerja analisis kadar air.












Gambar 3. Diagram Alir Analisis Kadar Air

UPAYA PROMOSI
Suplemen
Antioksidan bisa didapat dari sayuran dan buah-buahan, akan tetapi untuk mencukupi kebutuhan antioksidan dalam tubuh diperlukan porsi sayuran dan buah-buahan dalam jumlah besar. Selain itu, cara mengolah yang tidak tepat dapat merusak antioksidan yang terkandung di dalamnya. Sebagai solusi, diciptakanlah produk suplemen makanan seperti suplemen ekstrak kulit manggis.
Kulit manggis telah banyak digunakan untuk pengobatan sejak ratusan tahun yang lalu. Di dalam kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) terkandung komponen aktif bersifat antioksidan, yang disebut xanton atau xanthones. Xanton tersusun lebih dari 40 senyawa antioksidan seperti isomangostin, mangiferin, mangostin, garcinone, dan lain-lain.
Dari hasil uji laboratorium tes ORAC (Oxygen Radical Absorbance Capacity), xanton mempunyai kemampuan antioksidan berkisar pada nilai 17000 – 20000 ORAC per 100 ounce. Angka tersebut sangat besar jika dibandingkan dengan kemampuan antioksidan yang terdapat dalam tomat (200 ORAC), pisang dan mangga (300 ORAC), anggur (1100 ORAC), apel (1400 ORAC), jeruk (2400 ORAC) dan strawberry (2600 ORAC). Pendek kata, hal ini membuat kemampuan antioksidan xanton bekerja lebih cepat dan lebih signifikan dalam menjaga sistem imun dan stamina, termasuk mencegah penyakit degeneratif dan penyakit akibat mikroorganisme.
Suplemen ekstrak kulit manggis tersedia dalam bentuk jus, seduhan, dan kapsul. Namun, tidak semuanya murni berisikan esktrak. Beberapa suplemen mungkin hanya berisi tepung kulit manggis. Sangat disayangkan, di mana manfaat antioksidan yang diharapkan menjadi tidak maksimal. Lain halnya dengan Xantonin. Xantonin terbuat dari kulit manggis pilihan (dengan tingkat ketuaan tertentu), tanpa penambahan zat lain, dan diekstraksi secara maserasi menggunakan pelarut khusus pada tekanan vakum suhu rendah. Kualitas kulit manggis dan kondisi proses ekstraksi dijaga untuk mendapatkan ekstrak xanton berkualitas tinggi. Hasil pengamatan aktivitas antioksidan (uji dengan metode DPPH) xaNtonin adalah nilai IC50 22 µ/mL, atau kategori sangat kuat (<50 µ/mL).
Dengan mengkonsumsi xantonin, Anda akan memperoleh beberapa manfaat, antara lain membuat sehat dan awet muda karena kemampuannya menetralisir radikal bebas dan mempercepat regenerasi sel, serta membantu tidur lebih nyenyak sehingga badan lebih segar ketika bangun pagi dan stamina pun tetap terjaga. Secara kasat mata, perubahan akan nampak setelah mengkonsumsi xaNtonin secara rutin lebih dari 3 bulan.
Manfaat lainnya yaitu membantu mencegah penyakit jantung dan pembuluh darah, memperbaiki kondisi pasien diabetes mellitus tipe II, melawan infeksi mikroorganisme dengan mematikan bakteri (antimicrobial), jamur (antifungal), dan menghambat replikasi virus (antiviral) penyebab penyakit. Hal tersebut telah dibuktikan kebenarannya oleh berbagai penelitian ilmiah.
Sebagai tambahan, berikut kami bagikan tips bagaimana membedakan kapsul berisi ekstrak kulit manggis atau tepung kulit manggis :
1.        Buka kapsulnya, ambil sejumput serbuk / isinya. Letakkan serbuk / isi di antara dua jari tangan dan gesek-gesekkan. Bila terjadi perubahan warna mengarah ke merah ungu, berarti suplemen tersebut berisi tepung kulit manggis, bukan ekstrak. Hal ini disebabkan karena kandungan flavonoid (pemberi warna merah ungu pada kulit manggis) masih aktif. Jika suplemen tersebut murni berisi ekstrak, maka serbuk isi kapsul tidak akan berubah warna ketika digesekkan.
2.        Gunakan indra penciuman Anda. Suplemen yang murni berisi ekstrak tidak berbau saat dicium karena tidak terdapat penambahan bahan lain.

Dibuat Produk Es Krim
Es  krim  merupakan  produk  olahan  susu  yang  cukup  populer  dan  memiliki  segmen pasar  yang luas dan merupakan jajanan yang digemari oleh berbagai kalangan baik anak-anak,  remaja,  maupun  dewasa.  Tingkat  pertumbuhan  pasar es  krim  di  dalam  negeri  terus meningkat  sedikitnya  20%  setiap  tahun.  Namun,  karena  kandungan  lemak  dan  gulanya yang  tinggi  mengakibatkan  masyarakat  khususnya  orang  dewasa  dan  remaja  menjadi khawatir  dan  mempunyai  pandangan  bahwa  es  krim  merupakan  makanan  yang mengakibatkan kegemukan dan meningkatkan timbunan kolesterol. Lemak dan energi yang tinggi  dalam  pembuatan  es  krim  disebabkan  oleh  adanya  lemak  susu  sebagai  salah  satu bahan baku dalam pembuatan es krim.
Berbagai  jenis  inovasi  es  krim  terus  berkembang  baik  es  krim  berbahan  dasar  susu (dairy product) maupun non-dairy product seperti velva atau es krim berbahan dasar santan, tetapi  es krim  dengan  penambahan  antioksidan terutama  antioksidan  yang  bersumber  dari kulit  manggis  belum  pernah  dikembangkan  sebelumnya.  Oleh  sebab  itu  terdapat penelitian yang dilakukan  untuk  mengetahui  seberapa  efisien  penggunaan  kulit  manggis  sebagai  sumber antioksidan  pada  proses  pembuatan  es  krim. 
1.      Bahan
Bahan  yang  digunakan  untuk  pembuatan  es  krim  kulit  manggis  ini  adalah  sari  kulit manggis, whipped cream, telur, susu sapi full cream, gula, dan bahan Bahan penstabil yaitu CMC dan gum arab diperoleh dari toko Makmur sejati Malang. Bahan yang digunakan untuk analisis antara lain, petroleum eter, aseton, tablet kjedal, asam sulfat pekat, aquades, indicator metal red dan Pp, asam borat, NaOH 45 %, HCL 0.10 N, DPPH 0.20 MM, etanol dan kain saring.
2.      Alat
Alat  yang  digunakan untuk  pembuatan  es krim kulit  manggis  adalah  blender  (miyako), ice  cream  maker  (gelatiera),  freezer  (polytron),  (sharp),  mixer  (miyako),  timbangan  analitik (Denver Instrumen XP-1500), kompor, panci, pengaduk, wadah stainless steel. Alat yang digunakan untuk analisis antara lain timbangan analitik (Denver Instrumen XP-1500),  timbangan  digital  (Denver  Instrumen  M-130),  oven,  desikator,  labu  Kjeldahl,  soxhlet, rak tabung reaksi, pipet ukur, vortex, spektrofotometer dan glass ware.

UPAYA PREVENTIF
Budidaya Garcinia mangostana L.
Budidaya buah manggis atau menanam tanaman manggis sudah banyak dilakukan oleh para petani Indonesia, apalagi pada masa sekarang banyak ahli yang menemukan berbagai khasiat dan manfaat dari tanaman buah manggis untuk kesehatan tubuh manusia, maka tidak heran apabila permintaan buah manggis semakin hari semakin meningkat. Dengan meningkatnya permintaan seperti itu secara otomatis kebutuhan akan buah manggis pasti meningkat, hal ini bisa menjadikan peluang bagi para petani, khususnya para petani buah - buahan untuk mencoba membudidayakan buah manggis ini.
Di bawah ini akan dibahas secara singkat bagaimana langkah - langkah dalam melakukan budidaya buah manggis atau cara menanam tanaman manggis yang baik.

Syarat Tumbuh Buah Manggis
Tanah yang disukai tanaman manggis adalah jenis tanah yang gembur yang kaya kandungan bahan organik dengan drainase yang baik. Sebaliknya, tanaman manggis tidak menyukai tanah yang bersifat basa dan rendah kesuburannya. Tanah untuk tanaman manggis harus senantiasa lembap, tetapi tidak menggenang. Air tanah sedalam 2 m dari permukaan tnah cocok untuk tanaman manggis.
Curah hujan yang merata dengan sepuluh bulan basah dalam setahun amat disukai tanaman manggis. Sementara udara yang lembap dengan suhu udara 25-32°C sangat menunjang pertumbuhannya. Pada masa awal pertubuhan, manggis menyukai naungan. Akan tetapi, menjelang dewasa, sinar matahari penuh apat mempercepat masa awal produksinya. Sejauh ini tanaman manggis yang produktif dijumpai pada ketinggian 5-500 m di atas permukaan laut.

Pemilihan Bibit Buah Manggis
Dalam menanam manggis, penggunaan bibit perlu hati-hati agar nanti kita tidak kecewa. Bibit sebagai cikal bakal tanaman bisa diibaratkan sebagai modal yang ditanamkan dan akan bisa dipetik hasilnya setelah tanaman berbuah. Penggunaan bibit manggis unggul merupakan salah satu factor yang menunjang keberhasilan penanaman manggis. Bibit manggis unggul nantinya akan menghasilkan buah yang berkualitas. Sifat buah manggis berbeda dengan tanaman buah lainnya, misalnya durian. Durian mempunyai sifat menyerbuk silang sehingga kalau bijinya ditanam, buah yang akan dihasilkan akan lain dari induknya. Hal ini tidak terjadi pada manggis. Pembentukkan buah manggis bersifat apomiksis. Artinya, biji manggis berbentuk tanpa pembuahan.Bila diperhatikan, bunga manggis mempunyai tangai tepung sari yang pendek dan kering sehingga tidak bisa berfungsi sebagai penyerbuk. Walaupun demikian, biji manggis akan terbentuk dengan sendirinya karena adanya hormone endogen biji.
Ada petani yang beranggapan bahwa kalau menanam manggis, cukup menanamnya dengan menggunakan bibit dari biji. Toh nanti hasilnya akan persis sama dengan induknya. Pendapat ini memang ada benarnya mengingat manggis bersifat aporniksis. Akan tetapi, perlu diingat walaupun buahnya akan persis sama dengan induknya, tanaman manggis asal biji baru akan berubah awal atau berbuah pertama kali setelah berumur sepuluh tahun atau lebih semenjak tanam. Sebaliknya, kalau kita menanam bibit vegetative, tanaman manggis akan berubah setelah berumur lima tahun setelah tanam. Bibit manggis yang ada saat ini terdiri dari bibit asal biji, sambungan, dan susunan. Untuk membedakkan macam-macam bibit yang ada ini, sebaiknya kita mengetahui cirri-cirinya sebagai berikut :
a.       Bibit asal biji, cirri-cirinya adalah batangnya tegak dan kekar. Batang tampak mulus, tidaka da bekas penyembuhan luka. Bibit asal biji baik digunakan untuk batang bawah dalam perbanyakan dengan cara sambungan atau susunan.
b.      Bibit sambungan, cirri-cirinya adalah adanya bekas penyembuhan luka yang biasanya berbentuk huruf V pada batas sambungan antara batang atas dan batang bawah.
c.       Bibit susuan, cirri-cirinya adalah pertumbuhan batang atas seolah-olah bergandengan dengan batang bawah. Pada sisi-kiri dan kanan batang bawah-tempat terjadinya penyusunaan dengan batang atas akan tampak jelas adanya penyembuhan luka.

Penanganan Bibit Manggis Sebelum Ditanam
Bibit yang baru dibeli sebaiknya janagn langsung ditanam. Suhu yang panas dan adanya goncanagn selama pengangkutan menyebabkan bibit menjadi stress.oleh kareana itu, pemulihan kondisi iklim dilokasi yang baru belum tentu sama dengan iklim ditempat asal bibit sehingga perlu waktu untuk penyesuaian dengan lingkungan yang baru. Bibit yang dikirim dengan pengepakan segera dikeluarkan dari kemasannya dengan hati-hati dan ditempatkan di tempat yang teduh, tetapi masih cukup menerima sinar matahari (30%cahaya). Penyimpanan bibit diatur sedemikian rupa sehingga antara daun bibit yang satu dengan yang lain tidak bersentuhan.Bila media dalam polybag kering, segera dilakukan penyiraman. Penyiraman selanjutnya bisa dilakukan setiap dua kali sehari. Waktu yang diperlukan oleh bibit untuk beradaptasi dengan lingkungan baru bisa bervariasi dari 2 minggu hingga beberapa bulan, tergantung dari kondisi kesegarannya. Ini bisa diamati dari adanya tanda-tanda pertumbuhan pada bibit tersebut. Setelah bibit kelihatan segar, bibit bisa ditanam dikebun. Akan tetapi, bila waktu penanamannya masih lama, sebaiknya selain disiram bibit diberi pupuk daun. Bibit daun yang bisa dipergunakan antara lain Forest, supermes, atau algafer dengan konsentrasi berbeda-beda sesuai petunjuk pada kemasannya. Larutan pupuk ini disemprotkan ka bagian bawah dan atas permukaan daun secara merata. Untuk menjaga pertumbuhan yang baik, pemupukan dapat dilakukan setiap minggu. Penyemprotan dengan insektisida dan fungisida hanya dilakukan bila terdapat gejala serangan hama dan cendawan.

Persiapan Lahan
Lahan pertanian yang belum pernah ditanami palawija biasanya ditumbuhi semak berdaun lebar, alang-alang, atau rerumputan lain. Semua gulma (tumbuhan pengganggu) ini harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum lahan diolah lebih lanjut. Setelah itu, tanah dicangkul dan akar-akar tanaman dikumpulkan, lalu dibakar. Pencangkulan perlu dilakukan supaya tanah menjadi  gembur sehingga perakaran tanaman manggis dapat berkembang dengan baik. Untuk lahan yang sangat luas, kurang praktis jika seluruh lahan dicangkul. Disarankan pengolahan terbatas pada titik-titik tertentu dimana bibit akan ditanam.

Sistem Penanaman dan Pembuatan Lubang Tanam
Kegiatan selanjutnya adalah membuat peta kebun dengan memperhitungkan sisitem dan jarak tanam.Peta ini dijadikan patokan kerja untuk melakukan pengajiran, yaitu pemberian tanda pada lokasi yang akan ditanami. Ajir dapat dibuat dari bilah bamboo yang dicat merah sehingga mudah terlihat dari jarak jauh. Jarak tanam yang biasa digunakan untuk tanaman manggis adalah 10 x 10m, sedangkan tanaman untuk pelindung-pisang-ditanam dengan jarak 2,5 m diantara tanaman manggis.Lubang tanam untuk manggis dibuat dengan ukuran panjang, lebar, dan dalam masing-masing 75 cm. Pada waktu penggalian lubang tanam, dilakukan pemisahan tanah galian. Setengah bagian tanah lapisan atas ditaruh di sebelah kiri lubang dan setengah bagian tanah lapisan bawah disebelah kanan lubang.Lubang kemudian dibiarkan terangin-angin dan terkena sinar matahari sekitar 2 minggu. Dengan cara ini, gas beracun yang mungkin ada di sela-sela tanah bisa terbawa angin sehingga dapat diganti dengan oksigen dari udara.

Penanaman
Pemindahan bibit manggis dari persemaian ke lapangan memerlukan perhatian khusus. Mula-mula pada tempat yang ditancapi ajir dibuat lunag kecil dengan ukuran sedikit lebih besar dari ukuran polibag bibit manggis yang akan ditanam. Bibit manggis yang sudah disipakan lalu dikeluarkan dari polibag. Caranya, polibag disobek atau disayat mulai dari tepi atas sampai ke dasar. Bibit dengan tanahnya kemudian dimasukkan dengan hati-hati ke dalam lubang tanam denagn posisi tegak lurus terhadap permukaan tanah. Hal pokok yang harus diperhatikan adalah perakaran sama sekali tidak boleh terganggu. Bila kat tunggang terputus atau bola tanah yang membungkus perakaran terbelah, dalam 3-4 hari tanaman akan terlihat layu. Biasanya tanaman yang sudah layu tidak dapat diselamatkan .Lambat laun tanaman akan mongering, lalu mati.


DAFTAR PUSTAKA
Asep W Permana, Siti Mariana Widayanti, Sulusi Prabawati, dan Dondy A Setyabudi, 2012. Sifat Antioksidan Bubuk Kulit Buah Manggis (Garcinia Mangostana L.) Instan dan Aplikasinya untuk Minuman Fungsional Berkarbonasi. [Jurnal] Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian
Dewi, I.D.A.D.Y., Astuti, K.W,  Warditiani, N.K., 2013. Identifikasi Kandungan Kimia Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.). [Jurnal] Universitas Udayana.
Efendi, Wijaya, 1991. Ekstraksi, Purifikasi, dan Karakterisasi Antosianin dari Kulit Manggis (Garcinia Mangostana L. [Skripsi] Institut Pertanian Bogor
Hyun Ah-Jung, Bao-Ning Su, William, Rajendra G.Mehta, dan A.Douglas Kinghorn, 2006. Antioxidant Xanthones from the Pericarp of Garcinia mangostana (Mangosteen). [Jurnal] Division of Medicinal Chemistry and Pharmacognosy, College of Pharmacy, The Ohio State University
Miksusanti, Elfita, dan Hotdelina S, 2012. Aktivitas Antioksidan dan Sifat Kestabilan Warna Campuran Ekstrak Etil Asetat Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) dan Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.). [Jurnal] Jurusan Kimia, Universitas Sriwijaya, Sumatera Selatan, Indonesia
Poeloengan, Masniari, Praptiwi, 2010. Uji Aktivitas Anti Bakteri Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana Linn). [Jurnal] LIPI Cibinong
Putra, I Nengah Kencana, 2010. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana Linn). [Jurnal] Universitas Udayana
Rahman, Abdur, 2012. Analisis Kandungan Antioksidan dari Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L) dan Uji Aktivitasnya pada Asam Oleat. [Jurnal] Universitas Indonesia
Rahmawati, Yulistiana Dwi, 2011. Identifikasi Senyawa Antioksidan Dalam Ekstrak Etanol Kulit Buah Manggis  (Garcinia mangostana L.) Secara Kromatografi Lapis Tipis Autografi. [Skripsi] Universitas Jember
Stevi G. Dungira, Dewa G. Katjaa, Vanda S. Kamu, 2012. Aktivitas  Antioksidan    Ekstrak  Fenolik  dari  Kulit  Buah Manggis (Garcinia mangostana L.). [Jurnal] Universitas Sam Ratulangi Manado
Vienna Saraswaty, Chandra Risdian, Thelma A. Budiwati, dan Tjandrawati M, 2013. Aktivitas Antioksidan dari Kombinasi Ekstrak Etanol Kulit Manggis, Daun Sirsak, dan Daun Sirih Merah. [Jurnal] Pusat Penelitian Kimia LIPI
Yan Abdi Nugroho, Joni Kusnadi, 2015. Aplikasi Kulit Manggis (Garcinia mangostana L.) sebagai Sumber Antioksidn pada Es Krim. [Jurnal] FTP Universitas Brawijaya Malang
Y.I.P Arry Miryanti, Lanny Sapei, Kurniawan Budiono, Stephen Indra, 2011. Ekstraksi Antioksidan dari Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) [Jurnal] Universitas Kristen Parahyangan Bandung
Zulharmita, Mia Prajuwita, Agusri Boestari, 2011. Penetapan Kadar Fenolat Total dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kulit Segar Buah Manggis (Garcinia mangostana Linn.) [Jurnal] Universitas Andalas Padang
Yukihiro Akao, Yoshihito Nakagawa, Munekazu Iinuma, and Yoshinori Nozawa, 2008. Anti-Cancer Effects of Xanthones from Pericarps of Mangosteen. [Jurnal] Gifu International Institute of Biotechnology

Zarena,Arasali Sulaiman dan Kadimi Udaya Sankar, 2009. A Study of Antioxidant Properties from Garcinia mangostana L. Pericarp Extract. [Jurnal] Central Food Technological Research Institute in Mysore, India

Komentar

Postingan Populer