BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Teori Perkembangan Kognitif, adalah teori yang
dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun
1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi
perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi
Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan
melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan.
Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya skema-skema tentang bagaimana
seseorang mempersepsi lingkungannya dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat
seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental.
Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti
teori nativisme (yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan
pengetahuan dan kemampuan bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun
kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya
terhadap lingkungan.
2.2 Perumusan Masalah dan Pembahasan masalah
Supaya
pembahasan makalah ini tidak teralu luas, maka penulis memberi batasan masalah
dengan rumusan sebagai berikut :
1.
Menjelaskan Definisi Perkembangan Kognitif
2.
Menjelaskan Tahapan Demi Tahapan Perkembangan Kognitif
3.
Menjelaskan Proses Perkembangan Kognitif
1.2 Tujuan Penulisan
1.2 Tujuan Penulisan
Adapun
tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi Pendidikan.
2.
Menjelaskan Definisi Teori Perkembangan Kognitif.
3.
Menjelaskan Tahapan Demi Tahapan Perkembangan Kognitif.
4.
Menjelaskan Proses Perkembangan Kognitif.
BAB
II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
2.1 Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif adalah tahap-tahap
perkembangan kognitif manusia mulai dari usia anak-anak sampai dewasa; mulai
dari proses-proses berpikir secara konkret sampai dengan yang lebih tinggi
yaitu konsep-konsep anstrak dan logis.
Piaget mengembangkan teori perkembangan kognitif
yang cukup dominan selama beberapa dekade. Dalam teorinya Piaget membahas
pandangannya tentang bagaimana anak belajar. Menurut Jean Piaget, dasar dari belajar adalah aktivitas anak bila ia berinteraksi
dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisiknya. Pertumbuhan anak
merupakan suatu proses sosial. Anak tidak berinteraksi dengan lingkungan
fisiknya sebagai suatu individu terikat, tetapi sebagai bagian dari kelompok
sosial. Akibatnya lingkungan sosialnya berada diantara anak dengan lingkungan
fisiknya. Interaksi anak dengan orang lain memainkan peranan penting dalam
mengembangkan pandangannya terhadap alam. Melalui pertukaran ide-ide dengan
orang lain, seorang anak yang tadinya memiliki pandangan subyektif terhadap
sesuatu yang diamatinya akan berubah pandangannya menjadi obyektif. Aktivitas
mental anak terorganisasi dalam suatu struktur kegiatan mental yang disebut
”skema” atau pola tingkah laku.
2.2 Tahapan Perkembangan Kognitif
Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Jean
Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan
banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh
terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan
untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis
dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas
munculnya dan diperolehnya skema-skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi
lingkungannya dalam tahapan-tahapan
perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan
informasi secara mental. Untuk pengembangan teori ini, Piaget memperoleh
Erasmus Prize. Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya
melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring
pertambahan usia:
1. Periode
sensorimotor (usia 0-2 tahun)
Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks
bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya
dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor
adalah periode.pertama dari empat periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini
menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam sub-tahapan:
1) Sub-tahapan
skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan
terutama dengan refleks.
2) Sub-tahapan
fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan
berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
3) Sub-tahapan
fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan
dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
4) Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular
sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya
kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya
berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
5) Sub-tahapan
fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas
bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai
tujuan.
6) Sub-tahapan
awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal
kreativitas.
7) Piaget
membagi tahap sensorimotor dalam enam periode, yaitu:
·
Periode 1 : Refleks
(umur 0 – 1 bulan)
Periode
paling awal tahap sensorimotor adalah periode refleks. Ini berkembang sejak
bayi lahir sampai sekitar berumur 1 bulan. Pada periode ini, tingkah laku bayi
kebanyak bersifat refleks, spontan, tidak disengaja, dan tidak terbedakan.
Tindakan seorang bayi didasarkan pada adanya rangsangan dari luar yang
ditanggapi secara refleks.
·
Periode 2 : Kebiasaan
(umur 1 – 4 bulan)
Pada
periode perkembangan ini, bayi mulai membentuk kebiasan-kebiasaan pertama.
Kebiasaan dibuat dengan mencoba-coba dan mengulang-ngulang suatu tindakan.
Refleks-refleks yang dibuat diasimilasikan dengan skema yang telah dimiliki dan
menjadi semacam kebiasaan, terlebih dari refleks tersebut menghasilkan sesuatu.
Pada periode ini, seorang bayi mulai membedakan benda-benda di dekatnya. Ia mulai
mengaakan diferensiasi akan macam-macam benda yang dipegangnya. Pada periode
ini pula, koordinasi tindakan bayi mulai berkembang dengan penggunaan mata dan
telinga. Bayi mulai mengikuti benda yang bergerak dengan matanya. Ia juga mulai
menggerakkan kepala kesumber suara yang ia dengar. Suara dan penglihatan bekerja
bersama. Ini merupakan suatu tahap penting untuk menumbuhkan konsep benda.
·
Periode 3 : Reproduksi
kejadian yang menarik (umur 4 – 8 bulan)
Pada
periode ini, seorang bayi mulai menjamah dan memanipulasi objek apapun yang ada
di sekitarnya (Piaget dan Inhelder 1969). Tingkah laku bayi semakin
berorientasi pada objek dan kejadian di luar tubuhnya sendiri. Ia menunjukkan
koordinasi antara penglihatan dan rasa jamah. Pada periode ini, seorang bayi juga
menciptakan kembali kejadian-kejadian yang menarik baginya. Ia mencoba
menghadirkan dan mengulang kembali peristiwa yang menyenangkan diri (reaksi
sirkuler sekunder). Piaget mengamati bahwa bila seorang anak dihadapkan pada
sebuah benda yang dikenal, seringkali hanya menunjukkan reaksi singkat dan
tidak mau memperhatikan agak lama. Oleh Piaget, ini diartikan sebagai suatu
“pengiaan” akan arti benda itu seakan ia mengetahuinya.
·
Periode 4 : Koordinasi
Skemata (umur 8 – 12 bulan)
Pada
periode ini, seorang bayi mulai membedakan antara sarana dan hasil tindakannya.
Ia sudah mulai menggunakan sarana untuk mencapai suatu hasil. Sarana-sarana
yang digunakan untuk mencapai tujuan atau hasil diperoleh dari koordinasi
skema-skema yang telah ia ketahui. Bayi mulai mempunyai kemampuan untuk
menyatukan tingkah laku yang sebelumnya telah diperoleh untuk mencapai tujuan
tertentu. Pada periode ini, seorang bayi mulai membentuk konsep tentang
tetapnya (permanensi) suatu benda. Dari kenyataan bahwa dari seorang bayi dapat
mencari benda yang tersembunyi, tampak bahwa ini mulai mempunyaikonsep tentang
ruang.
·
Periode 5 : Eksperimen
(umur 12 – 18 bulan)
Unsur
pokok pada perode ini adalah mulainya anak memperkembangkan cara-cara baru
untuk mencapai tujuan dengan cara mencoba-coba (eksperimen) bila dihadapkan
pada suatu persoalan yang tidak dipecahkan dengan skema yang ada, anak akan
mulai mecoba-coba dengan Trial and Error untuk menemukan cara yang baru guna
memecahkan persoalan tersebut atau dengan kata lain ia mencoba mengembangkan
skema yang baru. Pada periode ini, anak lebih mengamati benda-benda
disekitarnya dan mengamati bagaimana benda-benda di sekitarnya bertingkah laku
dalam situasi yang baru. Menurut Piaget, tingkah anak ini menjadi intelegensi
sewaktu ia menemukan kemampuan untuk memecahkan persoalan yang baru. Pada
periode ini pula, konsep anak akan benda mulai maju dan lengkap. Tentang
keruangan anak mulai mempertimbangkan organisasi perpindahan benda-benda secara
menyeluruh bila benda-benda itu dapat dilihat secara serentak.
·
Periode Refresentasi
(umur 18 – 24 bulan)
Periode
ini adalah periode terakhir pada tahap intelegensi sensorimotor. Seorang anak
sudah mulai dapat menemukan cara-cara baru yang tidak hanya berdasarkan rabaan
fisis dan eksternal, tetap juga dengan koordinasi internal dalam gambarannya.
Pada periode ini, anak berpindah dari periode intelegensi sensori motor ke
intelegensi refresentatif. Secara mental, seorang anak mulai dapat
menggambarkan suatu benda dan kejadian, dan dapat menyelesaikan suatu persoalan
dengan gambaran tersebut. Konsep benda pada tahap ini sudah maju, refresentasi
ini membiarkan anak untuk mencari dan menemukan objek-objek yang tersembunyi.
Sedangkan konsep keruangan, anak mulai sadar akan gerakan suatu benda sehingga
dapat mencarinya secara masuk akal bila benda itu tidak kelihatan lagi.
Karakteristik
anak yang berada pada tahap ini adalah sebagai berikut:
a) Berfikir melalui perbuatan (gerak)
b) Perkembangan fisik yang dapat
diamati adalah gerak-gerak refleks sampai ia dapat berjalan dan bicara.
c) Belajar mengkoordinasi akal dan geraknya.
d) Cenderung intuitif egosentris, tidak rasional dan
tidak logis.
2. Periode praoperasional (usia 2-7 tahun)
Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat
tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa
setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi
psikologis muncul. Pemikiran (Pra)Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur
melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini
adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam
tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan
gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan
untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek
menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya
berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.
Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti
tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam
tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai
merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka
masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung
egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana
hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana
perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk
memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat
imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun
memiliki perasaan.Tahap pra operasional ini dapat dibedakan atas dua bagian.
Pertama, tahap pra konseptual (2-4 tahun), dimana representasi suatu objek
dinyatakan dengan bahasa, gambar dan permainan khayalan. Kedua, tahap intuitif
(4-7 tahun). Pada tahap ini representasi suatu objek didasarkan pada persepsi
pengalaman sendiri, tidak kepada penalaran.
Karakteristik anak pada tahap ini adalah sebagai
berikut:
a) Anak dapat mengaitkan pengalaman
yang ada di lingkungan bermainnya dengan pengalaman pribadinya, dan karenanya
ia menjadi egois. Anak tidak rela bila barang miliknya dipegang oleh orang
lain.
b) Anak belum memiliki kemampuan
untuk memecahkan masalah-masalah yang membutuhkan pemikiran “yang dapat dibalik
(reversible).” Pikiran mereka masih bersifat irreversible.
c) Anak belum mampu melihat dua
aspek dari satu objek atau situasi sekaligus, dan belum mampu bernalar
(reasoning) secara individu dan deduktif.
d) Anak bernalar secara transduktif
(dari khusus ke khusus). Anak juga belum mampu membedakan antara fakta dan
fantasi. Kadang-kadang anak seperti berbohong. Ini terjadi karena anak belum
mampu memisahkan kejadian sebenarnya dengan imajinasi mereka.
e) Anak belum memiliki konsep
kekekalan (kuantitas, materi, luas, berat dan isi).
f) Menjelang akhir tahap ini, anak
mampu memberi alasan mengenai apa yang mereka percayai. Anak dapat
mengklasifikasikan objek ke dalam kelompok yang hanya mempunyai satu sifat
tertentu dan telah mulai mengerti konsep yang konkrit.
3. Periode operasional konkrit (usia 7-11 tahun)
Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat
tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri
berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini
adalah:
·
Pengurutan : kemampuan
untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya,
bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang
paling besar ke yang paling kecil.
·
Klasifikasi : kemampuan
untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya,
ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian
benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak
tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua
benda hidup dan berperasaan)
·
Decentering : anak
mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya.
Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih
sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
·
Reversibility : anak
mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke
keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama
dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
·
Konservasi : memahami
bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan
dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai
contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka
akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di
gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
·
Penghilangan sifat
Egosentrisme : kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain
(bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh,
tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu
meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci,
setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan
mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau
anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.
Ciri-ciri operasi konkret yang
lain, yaitu:
1. Adaptasi dengan gambaran yang
menyeluruh. Pada tahap ini, seorang anak mulai dapat menggambarkan secara
menyeluruh ingatan, pengalaman dan objek yang dialami. Menurut Piaget, adaptasi
dengan lingkungan disatukan dengan gambaran akan lingkunganitu.
2. Melihat dari berbagai macam
segi. Anak mpada tahap ini mulai mulai dapat melihat suatu objek atau persoalan
secara sediki menyeluruh dengan melihat apek-aspeknya. Ia tidak hanya
memusatkan pada titik tertentu, tetapi dapat bersam-sam mengamati titik-titik
yang lain dalam satu waktu yang bersamaan.
3. Seriasi Proses seriasi adalah
proses mengatur unsur-unsur menurut semakin besar atau semakin kecilnya
unsur-unsur tersebut. Menurut Piaget , bila seorang anak telah dapat membuat
suatu seriasi maka ia tidak akan mengalami banyak kesulitaan untuk membuat
seriasi selanjutnuya.
4. Klasifikasi Menurut Piaget, bila
anak yang berumur 3 tahun dan 12 tahun diberi bermacam-maam objek dan disuruh
membuat klasifikasi yang serupa menjadi satu, ada beberapa kemungkinan yang
terjadi.
5. Bilangan. Dalam percobaan
Piaget, ternyata anak pada tahap praoperasi konkret belum dapat mengerti soal
korespondensi satu-satu dan kekekalan, namun pada tahap tahap operasi konkret,
anak sudah dapat mengerti soal karespondensi dan kekekalan dengan baik. Dengan
perkembangan ini berarti konsep tentang bilangan bagi anak telah berkembang.
6. Ruang, waktu, dan kecepatan.
Pada umur 7 atau 8 tahun seorang anak sudah mengerti tentang urutan ruang
dengan melihat intervaj jarak suatu benda. Pada umur 8 tahun anak sudan sudah
sapat mengerti relasi urutan waktu dan jug akoordinasi dengamn waktu, dan pada
umur 10 atau 11 tahun, anak sadar akan konsep waktu dan kecepatan.
7. Probabilitas. Pada tahap ini,
pengertian probabilitas sebagai suatu perbandingan antara hal yang terjadi
dengan kasus-kasus yang mulai terbentuk.
8. Penalaran. Dalam pembicaraan
sehari-hari, anak pada tahap ini jarang berbicara dengan suatu alasan,tetapi lebih
mengatakan apa yang terjadi. Pada tahap ini, menurut Piaget masih ada kesulitan
dalam melihat persoalan secara menyeluruh.
9. Egosentrisme dan Sosialisme.
Pada tahap ini, anak sudah tidak begitu egosentris dalam pemikirannya. Ia sadar
bahwa orang lain dapat mempunyai pikiran lain.
4. Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
Tahap operasional formal adalah periode terakhir
perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam
usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa.
Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara
abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang
tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta,
bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk
hitam dan putih, namun ada "gradasi abu-abu" di antaranya. Dilihat
dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai
perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis,
kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial.
Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini,
sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan
tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.
Sifat pokok tahap operasi formal adalah pemikiran
deduktif hipotesis, induktif sintifik, dan abstrak reflektif.
·
Pemikiran Deduktif
Hipotesis
Pemikiran deduktif adalah pemikiran yang
menarik kesimpulan yang spesifik dari sesuatu yang umum. Kesimpulan benar hanya
jika premis-premis yang dipakai dalam pengambilan keputusan benar. Alasan
deduktif hipotesis adalah alasan/argumentasi yang berkaitan dengan kesimpulan
yang ditarik dari premis-premis yang masih hipotetis. Jadi, seseorang yang
mengambil kesimpulan dari suatu proposisi yang diasumsikan, tidak perlu
berdasarkan dengan kenyataan yang real. Dalam pemikiran remaja, Piaget dapat
mendeteksi adaanya pemikiran yang logis, meskipun para remaja sendiri pada
kenyataannya tidak tahu atau belum menyadari bahwa cara berpikir mereka
itu logis. Dengan kata lain, model logis itu lebih merupakan hasil kesimpulan
Piaget dalam menafsirkan ungkapan remaja, terlepas dari apakah para remaja
sendiri tahu atau tidak.
·
Pemikiran Induktif
Sintifik
Pemikiran induktif adalah pengambilan
kesimpulan yang lebih umum berdasarkan kejadian-kejadian yang khusus. Pemikiran
ini disebut juga dengan metode ilmiah. Pada tahap pemikiran ini, anak sudah
mulai dapat membuat hipotesis, menentukan eksperimen, menentukan variabel
control, mencatat hasi, dan menarik kesimpulan. Disamping itu mereka sudah
dapat memikirkan sejumlah variabel yang berbeda pada waktu yang sama.
·
Pemikiran Abstraksi
Reflektif
Menurut Piaget, pemikiran analogi dapat
juga diklasifikasikan sebagai abstraksi reflektif karena pemikiran itu tidak
dapat disimpulkan dari pengalaman.
Beberapa Konsep dalam
Teori Piaget.
Ada beberapa konsep yang perlu dimengerti agar lebih
mudah memahami teori perkembangan kognitif atau teori perkembangan Piaget,
yaitu:
a. Intelegensi.
Piaget mengartikan intelegensi secara lebih luas, juga tidak mendefinisikan
secara ketat. Ia memberikan definisi umum yang lebih mengungkap orientasi
biologis. Menurutnya, intelegensi adalah suatu bentuk ekuilibrium kearah mana
semua struktur yang menghasilkan persepsi, kebiasaan, dan mekanisme sensiomotor
diarahkan. (Piaget dalam DR. P. Suparno,2001:19).
b. Organisasi.
Organisasi adalah suatu tendensi yang umum untuk semua bentuk kehidupan guna
mengintegrasikan struktur, baik yang psikis ataupun fisiologis dalam suatu
sistem yang lebih tinggi.
c. Skema.
Skema adalah suatu struktur mental seseorang dimana ia secara intelektual
beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Skema akan beradaptasi dan berubah selama
perkembangan kognitif seseorang.
d. Asimilasi.
Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi,
konsep atau pengalaman baru kedalam skema atau pola yang sudah ada dalam
pikirannya.
e. Akomodasi.Akomodasi
adalah pembentukan skema baru atau mengubah skema lama sehingga cocok dengan
rangsangan yang baru, atau memodifikasi skema yang ada sehingga cocok dengan
rangsangan yang ada.
f. Ekuilibrasi.
Ekuilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sedangkan
diskuilibrasi adalah keadaan dimana tidak seimbangnya antara proses asimilasi
dan akomodasi, ekuilibrasi dapat membuat seseorang menyatukan pengalaman luar
dengan struktur dalamnya.
Informasi umum mengenai
tahapan-tahapan
Keempat tahapan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
·
Walau tahapan-tahapan
itu bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya selalu sama. Tidak ada
ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur.
·
Universal (tidak
terkait budaya)
·
Bisa digeneralisasi:
representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri seseorang berlaku juga
pada semua konsep dan isi pengetahuan.
·
Tahapan-tahapan
tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara logis.
·
Urutan tahapan bersifat
hirarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari tahapan sebelumnya, tapi
lebih terdiferensiasi dan terintegrasi)
·
Tahapan
merepresentasikan perbedaan secara kualitatif dalam model berpikir, bukan hanya
perbedaan kuantitatif.
2.3
Proses Perkembangan Kognitif
Seorang individu dalam hidupnya selalu berinteraksi dengan
lingkungan. Dengan berinteraksi tersebut, seseorang akan memperoleh skema.
Skema berupa kategori pengetahuan yang membantu dalam menginterpretasi dan
memahami dunia. Skema juga menggambarkan tindakan baik secara mental maupun
fisik yang terlibat dalam memahami atau mengetahui sesuatu. Sehingga dalam
pandangan Piaget, skema mencakup baik kategori pengetahuan maupun proses
perolehan pengetahuan tersebut. Seiring dengan pengalamannya mengeksplorasi
lingkungan, informasi yang baru didapatnya digunakan untuk memodifikasi,
menambah, atau mengganti skema yang sebelumnya ada. Sebagai contoh, seorang
anak mungkin memiliki skema tentang sejenis binatang, misalnya dengan burung.
Bila pengalaman awal anak berkaitan dengan burung kenari, anak kemungkinan
beranggapan bahwa semua burung adalah kecil, berwarna kuning, dan mencicit.
Suatu saat, mungkin anak melihat seekor burung unta. Anak akan perlu
memodifikasi skema yang ia miliki sebelumnya tentang burung untuk memasukkan
jenis burung yang baru ini.
Asimilasi adalah proses menambahkan informasi baru
ke dalam skema yang sudah ada. Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang
akan cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang diperolehnya agar
bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada sebelumnya. Dalam contoh di atas,
melihat burung kenari dan memberinya label "burung" adalah contoh
mengasimilasi binatang itu pada skema burung si anak.
Akomodasi adalah bentuk penyesuaian lain yang
melibatkan pengubahan atau penggantian skema akibat adanya informasi baru yang tidak
sesuai dengan skema yang sudah ada. Dalam proses ini dapat pula terjadi
pemunculan skema yang baru sama sekali. Dalam contoh di atas, melihat burung
unta dan mengubah skemanya tentang burung sebelum memberinya label
"burung" adalah contoh mengakomodasi binatang itu pada skema burung
si anak.
Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem
kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu
tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang
individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu berupa keadaan
seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di lingkungan.
Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai
dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas.
Dengan demikian, kognisi seseorang berkembang bukan
karena menerima pengetahuan dari luar secara pasif tapi orang tersebut secara
aktif mengkonstruksi pengetahuannya.
BAB
III
PENUTUP
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Perkembangan kognitif adalah tahap-tahap
perkembangan kognitif manusia mulai dari usia anak-anak sampai dewasa; mulai
dari proses-proses berpikir secara konkret sampai dengan yang lebih tinggi
yaitu konsep-konsep anstrak dan logis. Jean Piaget seorang pakar yang banyak
melakukan penelitian tentang perkembangan kemampuan kognitif manusia,
mengemukakan dalam teorinya bahwa kemampuan kognitif manusia terdiri atas 4
tahap dari lahir hingga dewasa. Tahap dan urutan berlaku untuk semua usia
tetapi usia pada saat seseorang mulai memasuki tahap tertentu tidak sama untuk
setiap orang. Keempat tahap perkembangan itu digambarkan dalam teori Piaget
sebagai berikut :
1. Tahap
sensorimotor: umur 0 – 2 tahun (anak mengalami dunianya melalui gerak dan
inderanya serta mempelajari permanensi obyek)
2. Tahap
pra-operasional: umur 2 – 7 tahun (Ciri pokok perkembangannya adalah penggunaan
symbol/bahasa tanda dan konsep intuitif)
3. Tahap
operasional konkret: umur 7 – 11 tahun (anak mulai berpikir secara logis tentang
kejadian-kejadian konkret)
4. Tahap operasional
formal: umur 11 ke atas. (Ciri pokok perkembangannya adalah hipotesis, abstrak,
deduktif dan induktif serta logis dan probabilitas )
3.2
Saran
Demikian penulisan makalah yang kami
susun tentang bahasan Perkembangan Kognitif. Semoga makalah ini bisa bermanfaat
bagi penulis dan khususnya bagi pembaca. Kritik dan saran yang sifatnya
membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR WEBSITE
http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_perkembangan_kognitif
http://meetabied.wordpress.com/2010/03/20/teori-perkembangan-kognitif-piaget-dan-implikasi-dalam-pembelajaran.20
http://meetabied.wordpress.com/2010/03/20/teori-perkembangan-kognitif-piaget-dan-implikasi-dalam-pembelajaran.20
Komentar
Posting Komentar